Kopi Manis Pak Joko

Sore itu langit cerah membawa semburat tiga warna yang sangat indah. Kebetulan Pak Joko sedang libur kerja, jadinya sesore ini dia bisa duduk bersantai di teras belakang rumah. Dia merasa lega setelah tadi bebenah kebun dan juga merawat perkutut kesayangannya. Disela-sela kesibukannya setelah seharian berkerja dia masih bisa meluangkan waktu sejenak untuk sekedar menyirami tanaman dan juga merawat burung kesayangannya itu.

Rumahnya memang besar, sebuah rumah hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun, hingga pada saat ini dia sudah bisa dibilang orang yang sukses dalam bisnisnya. Sebagai seorang “juragan” dia tidak mau begitu saja lepas tangan menyerahkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya kepada para pegawainya, dia lebih senang untuk terjun langsung bersama para pegawainya membahas strategi bisnis yang terbaik.

Namun di puncak kesuksesannya ini Pak Joko belum juga mendapatkan keturunan, sudah berbagai cara dia coba dan berbagai macam terapi kesehatan dia ikuti, tetapi Tuhan belum juga memberikan dia dan istrinya kepercayaan untuk mendapatkan seorang anak.

“Pak…”
“Ini kopinya, diminum dulu nanti keburu dingin”

Sejenak dia tersadar dari lamunannya, dia menatap wajah istrinya yang kini sudah duduk dekat disampingnya. Senyuman Bu Lastri yang menyejukkan selalu membuat Pak Joko menjadi tenang dan damai.

“Iya bu.. , terima kasih” jawab Pak Joko sambil tersenyum.

Tangannya mengambil perlahan cangkir kopi di atas meja bundar antik yang ada di depannya, dia hirup wangi uap kopi dari cangkirnya, perlahan juga dia menyeruput kopi buatan istri tercintanya itu. Sambil menghela nafas panjang, dia letakkan lagi cangkir itu diatas meja. Senyumnya kembali merekah, saat dia saling bertemu mata dengan istrinya.

“Ada apa pak… sepertinya ada sesuatu yang bapak pikirkan ?” tanya Bu Lastri sambil mencoba menebak apa yang tergambar dari raut wajah suaminya itu.
“Ah.. tidak ada apa-apa bu… “ jawab Pak Joko sambil tersenyum.

Dia tahu istrinya pasti akan sedih jika dia mengatakan apa yang sedang dia pikirkan saat ini, dan itu pasti sangat tergambar jelas di wajah cantik istrinya, senyumnya pasti seketika itu juga pudar, jika dia menyinggung tentang anak yang belum bisa dia lahirkan dari rahimnya, seperti kodrat seorang wanita pada umumnya.

Memang Pak Joko sangat mencintai istrinya itu, istri yang dia nikahi sejak 30 tahun yang lalu itu selalu setia menemaninya dalam susah ataupun senang, tidak pernah sedikitpun senyumnya hilang, selalu saja ada dan begitu menentramkan hati, memberikan semangat baru saat dia sedang letih, setelah berhari-hari dia tidak berhasil mendapatkan konsumen yang mau menerima penawaran bisnisnya. Dan senyuman itu masih saja selalu ada menyemangatinya setiap saat bila dia kembali pulang dari berkerja.

Kembali Pak Joko menyeruput kopi buatan istrinya,

“Ehemmm…. kopi buatan ibu sepertinya lebih manis dari biasanya… ”

Bu Lastri tersenyum manis.

“Ah… bapak ada-ada saja, wong takarannya juga sama seperti biasa kok…”

“Pak… apa bapak masih cinta aku ?”

Pertanyaan Bu Lastri yang tiba-tiba membuat Pak Joko terkejut dan heran, semenjak menikah, tidak pernah istrinya bertanya seperti ini.

“He he he… pertanyaan mu kok tumben aneh sekali bu, kalau ibu tanya seperti itu dengan sangat tegas pastinya aku jawab ya, aku masih cinta kamu, dan cinta ini tidak membutuhkan alasan karena sesuatu“ jawab Pak Joko sambil tersenyum.

“Walaupun aku sampai saat ini belum bisa menghadiahkan seorang anak untuk bapak… apa bapak masih cinta dan menyayangi aku…? “

“Bu… apapun yang terjadi, aku masih sayang dan cinta pada ibu, sampai nanti entah kapan waktu itu datangnya Tuhan yang memisahkan kita berdua, dan kalaupun itu terjadi aku tak akan pernah menyanding wanita lain selain kamu. Itu janji ku bu. “

Ditatapnya tajam wajah istrinya , masih tersungging senyuman yang menyejukkan hatinya itu.

“Pak… memang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti atau esok, jika Tuhan berkehendak maka tidak akan ada waktu lagi bagi kita ada di dunia ini. “

“Pak.. maafkan aku yang tidak bisa menyempurnakan kebahagiaanmu, selama ini sebenarnya aku sangat tahu apa yang menjadi angan-angan mu, tetapi maaf sampai saat ini aku tidak bisa memberikan itu. Tapi aku selalu bersukur akan kebersamaan kita selama ini. “

“Dan ada lagi pak, mungkin aku tidak akan bisa lagi seperti biasa menemani bapak dan membuatkan kopi kesukaan bapak, minggu kemarin aku periksa ke dokter, dokter bilang kangker dirahim ku sudah stadium lanjut.”

Tuhan memang maha adil, selama ini Pak Joko pun tak pernah tahu kalau istrinya menderita sakit, tak pernah sedikitpun istrinya menunjukkan rasa sakit didepannya. Hanya saja memang tubuh istrinya yang terlihat sedikit kurus, tetapi senyuman itu masih tetap mengembang indah menunjukkan ketegarannya.

Senyuman itu masih terasa manis bagi Pak Joko, Tak terasa titik air jatuh membasahi pipinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *