Karakter Leader

Harus kita akui, jadi leader tuh beneran gak gampang.

Ada tanggung jawab besar yang mesti diemban.
Ada beban berat yang mesti dipikul.
Ada tumpukan persoalan yang dipecahkan.

…dan masih banyak lagi.

Masalahnya, semua diantara kita adalah seorang leader, minimal bagi diri sendiri dan keluarga. Bener, ya?

Terlebih, kalau misalkan kita mendapat amanah besar untuk jadi leader di perusahaan atau negara. Beeeuh… Berat! Sungguh berat. Seriusan…

Tak heran, di zaman dulu, para sahabat dan orang-orang sholeh seringkali menghindar, menolak, dan merasa keberatan ketika ditunjuk menjadi seorang pemimpin. Kenapa?

Karena memang merasa tidak layak, tidak pantas, dan tidak sanggup mengemban amanah yang harus diemban. Berat!

Berbeda dengan zaman sekarang, orang malah berlomba-lomba pengen jadi pemimpin. Malah, pada mencalonkan dirinya sendiri. Parahnya, seringkali mereka menghalalkan segala cara agar bisa menang. (Lho, kok jadi nyerempet ke Politik, sih?) #gagalfokus

Rasulullah bersabda: “Wahai Abdurrahman bin Samurah! Jangan kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepadamu karena diminta, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian. Dan jika kepemimpinan itu diberikan kepadamu bukan karena diminta, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Udah ah, mending ngomongin hal yang ringan-ringan aja ya. Hehe…

Jadi kemarin, Saya nonton film di bioskop baren istri dan anak. Maklum, “sufi” (suka film). Tiap minggu Saya hampir selalu nonton. Nyari ide buat bisnis dan nulis.

Nah, bagi Saya pribadi (dan istri), film kemarin terbilang sangat keren. Kenapa? Selain memberikan banyak insight berharga, juga setiap scene di film tersebut bener-bener berfaedah dan gak ada adegan “begituan” nya. Cucok, lah!

Hampir semua pemain di film ini adalah cowok, kecuali 2 orang saja (cewek). Sisanya, laki-laki semua. Seingat Saya begitu. Cek aja deh entar ya.

Film yang dimaksud adalah HUNTER KILLER. Saran Saya, tonton deh!

Ada banyak pelajaran berharga buat Saya saat nonton film tersebut, khususnya perihal LEADERSHIP (kepemimpinan).

Ya, tokoh-tokoh di film inimemberikan pesan leadership yang luar biasa. Minimal, Saya dapatkan dari 3 sosok penting, yakni Kapten Joe Glass (Gerard Butler), Letnan Bill Beaman (Toby Stephens), dan Kapten Sergei Andropov (Michael Nyqvist). Yuk kita bahas…

(Warning! Kalau emang gak mau spoiler, jangan coba-coba baca. Hehehe)

Apa aja pelajarannya?

Pertama, TANGGUNG JAWAB PENUH.

Seingat Saya, Kapten Glass sebenarnya bukanlah seorang Kapten. Saya lupa nama/sebutannya apa, tapi saat ia ditunjuk oleh Amerika untuk menyelidiki hilangnya kapal selam Amerika, plus misi tambahan untuk menyelamatkan presiden Rusia dari kudeta, ia tak dipercaya oleh hampir semua awak kapalnya.

Semua orang ragu.
Semua orang tertawa.
Semua orang seakan meremehkan.

Tapi apa respon Kapten Glass?

Dengan penuh percaya diri dan penuh karismatik, ia ambil pengeras suara dan mengumumkan kepada seluruh awak kapal bahwa ia adalah pemimpin di kapal selam tersebut.

Sampai-sampai dia bilang ke XO, salah satu awak kapalnya, “Your job is my responsibility…”. Beeeeuh, Ini keren!

“Gawean mu kui tanggung jawab ku” jare ne wong jowo. Hehe

Kerjaan kalian adalah tanggung jawabku.
Nasib kalian adalah tanggung jawabku.

Begitupun kita di perusahaan…

Semua orang yang ada di perusahaan kita, ya tanggung jawab kita.

Walaupun bisa jadi mereka awalnya meremehkan dan mempertanyakan keberadaan kita, tapi ketika sudah ditunjuk jadi leader di perusahaan, ya mau gak mau semua anah buah kita adalah tanggung jawab kita.

Kalau mereka salah, ya salah kita.
Kalau mereka goblok, ya goblokan kita.
Kalau mereka bego, ya begoan kita.

“Lho, kok Saya yang salah?”
“Lho, kok Saya yang goblok?”
“Lho, kok Saya yang bego?”

Ya salah, karena kamu gak bisa memastikan kerjaan dia bener.

Ya goblok, karena kamu gak bisa memastikan dia bener-bener pinter.

Ya bego, karena kamu gak bisa memastikan dia jadi orang hebat.

Semuanya tanggung jawab kita. 100%.

“Iya, tapi kan salah dia, lah…”

Lha, jelas salah kamu! Kenapa rekrut tim kaya dia. PLAKKK!!!

Pesan mengenai tanggung jawab ini tak hanya diberikan oleh Kapten Glass, tapi juga oleh Letnan Bill Beaman (Toby Stephens). Bayangkan aja, disaat dia sudah berhasil membawa presiden ke kapal selam jemputan Amerika, dia malah memutuskan tidak ikut bersama. Lantas dia kemana? Eh, ternyata dia balik lagi untuk menjemput seorang prajurit lainnya yang masih di darat.

Pertanyaannya, kenapa dia balik lagi?

Jelas, karena dia punya tanggung jawab.

Tanggung jawab atas bawahannya.

Dia berkomitmen dengan ucapannya sendiri. Sebelum Bill Beaman meninggalkan Martinelli (Zane Holtz) yang kakinya pincang karena tertembak, ia berkata, “Kalau nanti Saya masih hidup, Saya akan kembali menjemputmu…”.

Waiki! Top banget, dah…

Komitmen dengan ucapan.
Tanggung jawab pada bawahan.

Jarang-jarang ada orang sepeduli dan setanggung jawab leader kaya dia.

Yang sering kita temukan adalah sosok leader yang naik ke atas dengan menginjak orang lain. Mereka menjadi hebat karena pengakuan dirinya sendiri, bukan kontribusi dari bawahan.

Pas sukses, ini karena kehebatan Saya…
Pas gagal, ini timnya yang goblok!

Lha iki piye?

Gak masuk kategori leader level 5 versi Jim Collins di bukunya yang “Good to Great”. Seharusnya kalau leader yang keren itu begini:

Pas sukses, ini karena kehebatan tim…
Pas gagal, ini murni kesalahan Saya…

Waini! Catat baik-baik. ✍️

Seperti petuah Coach Imam Elfahmi, “Isyarat terbaik dari seorang pemimpin adalah tanggung jawabnya. Ekspresi terbaik dari seorang pemimpin adalah kemenangannya…”.

Kedua, BERANI AMBIL RISIKO.

Banyak risiko yang diambil oleh Kapten Glass di film ini, salah satunya keputusan untuk menyelamatkan dan memperlakukan baik Kapten Andropov yang notabene adalah seorang musuh (kapten kapal selam Rusia yang selamat).

Dan gak cuma itu, risiko besar pun diambil saat Kapten Glass menerobos perairan Rusia yang dipenuhi ranjau, sensor suara, dan pasukan Rusia lainnya.

Semua crew kapal panik, karena mereka benar-benar dalam kondisi terjepit dan siap-siap mati. Tapi, Kapten Glass mengambil tindakan yang berisiko dan sangat berani. Sampai-sampai, dia bicara keras pada awak kapal tersebut “Jika kamu tak mampu, lebih baik kamu diam!”

Boso jowo ne, “Yen ora ngerti, ora usah cangkeman!” 😂

Ini crazy! Bener-bener gila…

Tapi itulah karakter seorang leader.

Harus gila. Harus berani.

Berani hadapi rintangan.
Berani hadapi tantangan.
Berani ambil keputusan besar.

Begitupun dalam bisnis…

Terkadang kita akan dihadapkan dengan situasi mendesak dan terjepit untuk mengambil keputusan besar.

Keputusan untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Keputusan untuk mengembalikan cashflow perusahaan dari kerugian.

Keputusan untuk membangun sinergi dan kolaborasi dengan pesaing.

…dan masih banyak lagi.

Biasanya, saat kita melakukannya, orang-orang di perusahaan gak akan mikir sejauh kita. Mereka menganggap kita gila. Kenapa? Karena mereka berpikir sesuai prosedur, flow, dan SOP perusahaan.

Padahal, dalam kondisi kepepet, keberanian melakukan hal-hal beda itu diperlukan. Berisiko, pasti.

Tapi ingat, dibalik risiko besar, ada rezeki besar. Risk = Rizq.

Bawahan kita hanya akan tersadar ketika melihat hasil keputusannya yang benar dan memajukan perusahaan. Sama seperti ketika Kapten Glass ngomong ke XO, “Jadi, kamu pilih mana, Benar atau Selamat?”. Maksudnya?

Benar = ngikutin prosedur dan mundur, tapi kapal selam bakar kena torpedo dan semua awak kapal bakal mati.

Selamat = berani ambil risiko besar dan terus maju, tapi seluruh awak akal berpotensi selamat dan tetap hidup.

Kebayang ya? Catat poin pentingnya…

Ketiga, JANGAN KEHILANGAN HARAPAN.

Ada percakapan menarik pada saat Kapten Glass bertanya pada XO, “Kamu takut?”. Lantas, XO menjawab, “Anda harus tegar, pak. Biar kami saja takut.”

Ah, ini keren! Inilah yang seharusnya terjadi di perusahaan…

Seorang bawahan bisa saja tak mampu dan tak kuat menghadapi fakta brutal perusahaan, misalkan:

Profit yang minus.
Cashflow yang ancur.
Stok yang numpuk.
Kompetitor yang kampret.

…dan fakta-fakta brutal lainnya.

Tapi leader gak boleh takut dan gak boleh kehilangan keyakinan. Haram hukumnya!

Harus yakin pasti menang.
Harus yakin pasti unggul.
Harus yakin pasti tumbuh.

Harus. Wajib. Titik. Tanpa koma!

Lagi-lagi, ini seperti yang dibahas tuntas di buku “Good to Great” nya Jim Collins, bahwa karakter perusahaan yang memenuhi kriteria Great dengan pertumbuhan perusahaan yang eksponensial salah satunya adalah SIAP MENGHADAPI FAKTA BRUTAL (KERAS) TANPA KEHILANGAN KEYAKINAN.

Puncaknya, di scene terakhir, saat mereka selamat dari serangan torpedo yang diluncurkan Durov (Mikhail Gorevoy), kapten Andropov bertanya kepada Glass, “Darimana kamu tahu?”. Maksudnya, darimana dia tahu bahwa dia harus menahan (hold) tembakan sampe hitungan terakhir. Tebak, apa jawaban Kapten Glass?

“I don’t know. I hope..”

Ya, dia gak tahu. Dia cuma berharap aja.

Dan akhirnya, pasukan-pasukan muda Rusia yang pernah dilatih oleh Kapten Andropov pun mengarahkan tembakan ke roket yang diluncurkan oleh Durov, sehingga seluruh awal kapal selam Amerika yang udah pasrah tak berdaya, bisa selamat dan akhirnya menang. Yeee!

Demikian ulasan Saya mengenai film Hunter Killer. Abaikan spoilernya, tulisan ini semata-mata untuk memberikan pelajaran buat kawan-kawan agar bisa menjadi leader yang berkarakter.

Karakter seperti apa?

Bertanggung jawab penuh.
Berani ambil risiko.
Berani hadapi tantangan.
Berani ambil keputusan besar.
Memecahkan segala masalah.
Siap menghadapi fakta brutal.
Yakin seyakin-yakinnya.

Dan tentunya, tidak pernah kehilangan harapan.

Semoga kita semua bisa menjadi pemimpin yang dapat memberikan teladan baik bagi keluarga, perusahaan, dan ummat. Aaamiin…

Saling mendoakan ya! Share…

“Tugas pemimpin adalah mencapai hal-hal yang tidak mungkin, mengubah yang nampaknya tidak mungkin menjadi mungkin…” (Sir Alex Ferguson )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *