| Home / kesalahan penulis / Mengenal Stunting, Penyebab dan Cara Penanganannya

Mengenal Stunting, Penyebab dan Cara Penanganannya

Photo of author
Written By Arief Tri

Seorang blogger, penulis buku dan freelance digital marketing. Silahkan hubungi Saya jika ingin bekerja sama dalam hal penulisan.

ari3yanto.com – Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga tinggi badannya lebih pendek dari standar usianya. Stunting merupakan masalah kesehatan yang serius karena dapat memengaruhi perkembangan otak, kekebalan tubuh, dan kualitas hidup anak di masa depan. Stunting juga berdampak negatif pada pembangunan sosial dan ekonomi suatu negara. Oleh krenanya Kita harus mengenal stunting, penyebab dan cara penanganannya.

mengenal stunting

Mengenal Stunting dari Penyebabnya

Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain:

  1. Kurangnya asupan gizi yang adekuat dan seimbang bagi ibu hamil dan anak. Gizi yang dibutuhkan meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air. Gizi yang kurang dapat menghambat pertumbuhan janin, menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, dan mengurangi produksi ASI.
  2. Kurangnya pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan. ASI mengandung nutrisi dan antibodi yang penting untuk tumbuh kembang dan kesehatan bayi. ASI juga dapat melindungi bayi dari infeksi dan alergi.
  3. Kurangnya pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bervariasi dan bergizi pada anak usia 6-24 bulan. MPASI diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang meningkat seiring dengan pertumbuhan anak. MPASI juga dapat membantu anak belajar mengenal berbagai rasa, tekstur, dan bentuk makanan.
  4. Infeksi berulang atau kronis yang dialami ibu hamil atau anak, seperti diare, ISPA, malaria, tuberkulosis, atau cacingan. Infeksi dapat mengganggu penyerapan dan pemanfaatan nutrisi, serta menguras energi dan cairan tubuh. Infeksi juga dapat mengurangi nafsu makan dan menyebabkan dehidrasi.
  5. Faktor lingkungan yang tidak mendukung, seperti sanitasi, air bersih, dan kebersihan yang buruk. Lingkungan yang kotor dapat menjadi sumber penyakit dan infeksi yang dapat menular kepada ibu hamil atau anak. Lingkungan yang tidak higienis juga dapat mengurangi kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi.
  6. Faktor sosial ekonomi yang rendah, seperti kemiskinan, kurangnya akses ke pelayanan kesehatan, pendidikan, dan informasi. Faktor ini dapat membatasi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan ibu hamil dan anak. Faktor ini juga dapat mempengaruhi pola asuh, stimulasi, dan pengasuhan anak yang optimal.

Gejala Stunting

Walau tidak selalu mudah dikenali karena gejalanya tidak spesifik dan dapat bervariasi pada setiap anak. Namun, ada beberapa tanda dan ciri yang dapat membantu mengidentifikasi stunting, antara lain:

  1. Tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya. Standar yang digunakan adalah standar pertumbuhan anak WHO yang dapat dilihat di [sini].
  2. Anak dikatakan stunting jika memiliki nilai z-score tinggi badan menurut usia (TB/U) kurang dari -2 SD (standard deviasi).
  3. Perkembangan kognitif, motorik, sosial, dan emosional anak terhambat. Anak yang mengalami stunting dapat mengalami kesulitan belajar, berbicara, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain. Anak juga dapat menjadi lebih mudah lelah, lesu, murung, atau rewel.
  4. Kekebalan tubuh anak menurun. Anak yang mengalami stunting lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit, seperti diare, ISPA, malaria, atau cacingan. Anak juga lebih sulit sembuh dan pulih dari sakit.
  5. Kualitas hidup anak berkurang. Anak yang mengalami stunting dapat mengalami masalah kesehatan, pendidikan, dan ekonomi di masa depan. Anak juga dapat mengalami diskriminasi, stigma, atau bullying dari lingkungan sekitarnya.

Dampak Stunting

Mengenal stunting juga harus mengal dampaknya. Dampak untuk jangka panjang sangat besar bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Beberapa dampak stunting adalah:

  1. Dampak pada kesehatan. Stunting dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker pada usia dewasa. Stunting juga dapat menyebabkan gangguan reproduksi, seperti infertilitas, keguguran, atau bayi lahir cacat.
  2. Dampak pada pendidikan. Stunting dapat mengurangi kemampuan belajar, mengingat, dan berpikir kritis pada anak. Stunting juga dapat menurunkan prestasi akademik, minat belajar, dan partisipasi sekolah pada anak. Stunting juga dapat mengakibatkan putus sekolah, drop out, atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
  3. Dampak pada ekonomi. Stunting dapat mengurangi produktivitas, kreativitas, dan inovasi pada individu. Stunting juga dapat menurunkan pendapatan, kesejahteraan, dan mobilitas sosial pada individu. Stunting juga dapat menimbulkan biaya kesehatan, pendidikan, dan sosial yang tinggi bagi keluarga dan masyarakat.
  4. Dampak pada pembangunan. Stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) pada suatu negara. Stunting juga dapat menimbulkan ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan pada suatu negara.

Mengenal Stunting dan Pencegahannya

Kondisi ini dapat dicegah dengan melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Memastikan ibu hamil mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang, serta mengonsumsi suplemen zat besi, asam folat, dan yodium sesuai anjuran. Ibu hamil juga harus rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan, serta menghindari rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang.
  2. Memberikan ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan, tanpa tambahan air, susu formula, atau makanan lain. Setelah usia 6 bulan, bayi dapat diberi MPASI yang bervariasi dan bergizi, serta tetap diberi ASI hingga usia 2 tahun atau lebih.
  3. Mengukur berat dan tinggi badan anak secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat, serta mencatat hasilnya di kartu menuju sehat (KMS). Jika terdapat tanda-tanda gangguan pertumbuhan, segera konsultasikan dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
  4. Memberikan imunisasi lengkap pada anak sesuai jadwal, serta menjaga kebersihan tangan, mulut, dan gigi anak. Jika anak sakit, segera bawa ke fasilitas kesehatan dan berikan obat sesuai resep dokter. Hindari memberikan obat tradisional atau alternatif yang tidak terjamin keamanannya.
  5. Meningkatkan akses dan kualitas sanitasi, air bersih, dan kebersihan lingkungan. Buanglah sampah dan kotoran hewan secara teratur, serta jauhkan dari sumber air dan makanan. Gunakanlah jamban yang sehat dan cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, setelah buang air, dan setelah menyentuh hewan.
  6. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga tentang pentingnya gizi dan kesehatan ibu hamil dan anak. Manfaatkanlah sumber informasi yang terpercaya, seperti petugas kesehatan, media massa, atau internet. Ikutlah kegiatan sosialisasi, edukasi, atau konseling yang diselenggarakan oleh pemerintah, lembaga kesehatan, atau organisasi masyarakat.

Stunting di Indonesia

Kondisi stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius di Indonesia. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%, yang berarti sekitar 7,6 juta anak balita mengalami stunting. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 24,4%, namun masih di atas target nasional yang ditetapkan sebesar 14% pada tahun 2024.

Di Indonesia bervariasi menurut provinsi, kabupaten/kota, dan wilayah. Provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (37,4%), Papua (35,5%), dan Maluku (33,1%). Sementara itu, kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi adalah Kabupaten Nduga (58,3%), Kabupaten Puncak (56,6%), dan Kabupaten Tolikara (55,9%). Secara umum, wilayah pedesaan memiliki prevalensi stunting lebih tinggi daripada wilayah perkotaan.

Berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi ini di Indonesia, antara lain:

  1. Status gizi ibu hamil dan anak. Data SSGI 2022 menunjukkan bahwa 17,4% ibu hamil mengalami anemia, 12,2% ibu hamil memiliki berat badan kurang, dan 19,1% bayi lahir dengan berat badan rendah. Selain itu, hanya 42,3% bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, dan 36,4% anak usia 6-23 bulan yang mendapatkan MPASI sesuai standar.
  2. Faktor lingkungan. Data SSGI 2022 menunjukkan bahwa 66,8% rumah tangga memiliki akses ke air bersih, 71,9% rumah tangga memiliki akses ke sanitasi yang layak, dan 59,4% rumah tangga memiliki tempat pembuangan sampah yang sehat. Faktor lingkungan ini berpengaruh pada risiko terjadinya infeksi dan penyakit pada ibu hamil dan anak.
  3. Faktor sosial ekonomi. Data SSGI 2022 menunjukkan bahwa 9,8% rumah tangga berada di bawah garis kemiskinan, 20,4% rumah tangga memiliki tingkat kesejahteraan rendah, dan 34,1% ibu memiliki pendidikan rendah. Faktor sosial ekonomi ini berpengaruh pada ketersediaan dan keterjangkauan makanan bergizi, pelayanan kesehatan, dan informasi yang berkualitas.

Kesimpulan

Pemberian materi mengenal stunting memang sangat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat. Jika tidak ada kepedulian untuk mengedukasi masyarakat akan hal ini, akan berdampak buruk kepada generasi masa depan Indonesia. Mari bersama mengedukasi masyarakat tentang stunting.

Bagikan:

Tinggalkan komentar