| Home / fiksi mini horor / Martua Sitorus, Mantan Loper Koran Kini Raja Minyak RI

Martua Sitorus, Mantan Loper Koran Kini Raja Minyak RI

Photo of author
Written By Arief Tri

Seorang blogger, penulis buku dan freelance digital marketing. Silahkan hubungi Saya jika ingin bekerja sama dalam hal penulisan.

ari3yanto.com – Apakah Anda pernah mendengar nama Martua Sitorus? Mungkin sebagian dari Anda belum familiar dengan sosok yang satu ini. Namun, jika Anda mengetahui merek minyak goreng Fortune, Sovia, atau Sania, maka Anda sudah pernah menyentuh hasil karya dari Martua Sitorus.

martua-sitorus

Martua Sitorus adalah salah satu orang terkaya di Indonesia yang berhasil membangun bisnis minyak kelapa sawit berskala global. Bersama dengan rekannya, Kuok Khoon Hong, ia mendirikan Wilmar International Limited, salah satu perusahaan agribisnis terbesar di dunia.

Namun, jalan menuju kesuksesan Martua Sitorus tidaklah mudah. Ia harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan sejak kecil hingga dewasa. Berikut ini adalah kisah inspiratif dari mantan loper koran yang kini jadi raja minyak RI berharta Rp 49 T.

Masa Kecil Martua Sitorus Penuh Perjuangan

Martua Sitorus lahir pada tahun 1960 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga sederhana yang berprofesi sebagai petani. Sejak kecil, ia sudah belajar untuk bekerja keras dan mandiri.

Salah satu pekerjaan yang pernah dilakoninya adalah menjadi loper koran. Ia harus bangun pagi-pagi untuk mengambil koran dari kantor penerbit dan mengantarkannya ke rumah-rumah pelanggan. Ia juga pernah berjualan udang di pasar untuk menambah penghasilan keluarganya.

Meski hidup serba pas-pasan, Martua Sitorus tidak menyerah untuk menuntut ilmu. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota kelahirannya. Kemudian, ia melanjutkan kuliah di Universitas HKBP Nomensen, Medan, jurusan teknik sipil.

Pertemuan yang Mengubah Nasib

Setelah lulus kuliah, Martua Sitorus sempat bingung mencari pekerjaan. Ia akhirnya mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Di sana, ia bertemu dengan Kuok Khoon Hong, seorang pengusaha asal Malaysia yang juga bekerja di perusahaan yang sama.

Keduanya kemudian menjalin hubungan baik dan saling berbagi ide bisnis. Pada tahun 1991, mereka memutuskan untuk mendirikan perusahaan bersama yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit. Perusahaan itu diberi nama Wilmar, yang merupakan singkatan dari William dan Martua.

Awalnya, Wilmar hanya mengelola lahan perkebunan kelapa sawit seluas 7.100 hektar. Namun, seiring berjalannya waktu, perusahaan ini terus berkembang dan membangun pabrik sendiri untuk memproduksi minyak kelapa sawit. Wilmar juga mulai berekspansi ke berbagai negara, seperti China, India, Indonesia, dan lain-lain.

Menjadi Raksasa Minyak Kelapa Sawit

Saat ini, Wilmar sudah menjadi salah satu perusahaan agribisnis terbesar di dunia. Wilmar memiliki lebih dari 500 pabrik dengan jaringan distribusi yang luas. Wilmar juga memproduksi berbagai produk turunan dari minyak kelapa sawit, seperti minyak goreng, margarin, sabun, deterjen, dan lain-lain.

Berbagai merek terkenal di Indonesia, seperti Fortune, Sovia, Sania, Marina, dan Tropical, merupakan produk-produk dari Wilmar. Wilmar juga menjadi pemasok minyak kelapa sawit untuk perusahaan-perusahaan besar, seperti Unilever, Nestle, dan Procter & Gamble.

Dengan kesuksesan Wilmar, Martua Sitorus pun menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Menurut majalah Forbes, pada tahun 2023, kekayaan bersih Martua Sitorus mencapai US$ 3,2 miliar atau setara dengan Rp 49,6 triliun. Ia menempati peringkat ke-11 orang terkaya di Indonesia dan ke-904 di dunia.

Tidak Lupa Berbagi dengan Sesama

Meski sudah menjadi orang kaya, Martua Sitorus tidak lupa dengan asal-usulnya. Ia selalu berusaha untuk berbagi dengan sesama, terutama dengan masyarakat di daerah asalnya. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Salah satu contoh kepeduliannya adalah ketika ia mendirikan Yayasan Martua Sitorus pada tahun 2011. Yayasan ini bertujuan untuk memberikan bantuan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya di Sumatera Utara.

Martua Sitorus juga pernah menyumbangkan Rp 100 miliar untuk pembangunan gedung baru Universitas HKBP Nomensen, tempat ia menempuh pendidikan tinggi. Ia berharap, dengan adanya fasilitas yang lebih baik, mahasiswa dapat belajar dengan lebih optimal dan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Kesimpulan

Kisah Martua Sitorus adalah kisah yang menginspirasi banyak orang. Dari seorang loper koran yang hidup sederhana, ia mampu menjadi raja minyak RI yang berpengaruh di dunia. Ia juga tidak lupa untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.

Kisah Martua Sitorus menunjukkan bahwa dengan kerja keras, tekad kuat, dan visi yang jelas, kita dapat meraih impian kita. Tidak peduli dari mana kita berasal, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Referensi,

https://en.wikipedia.org/wiki/Martua_Sitorus

Bagikan:

Tinggalkan komentar