Kopi (Senandika 30 Hari September 2020)

kopi-senandika

Mentari masih malu-malu menunjukkan sinarnya pagi ini. Awan pun seolah ikut menutupi pandanganku, padahal aku ingin sekali menatap wajah mentari dan membiarkan mata ini terbakar sedikit saja, agar segera hilang rasa kantuk yang aku rasa.

Segera aku berlari ke dapur, bubuk hitam itu sudah memanggil dengan genitnya, serta mengajak menari salsa dengan goyangannya yang gemulai. Kopi akhirnya aku harus akhiri hidupmu rasakanlah air mendidih ini, sedikit pemanis mungkin akan membuat hidupmu tenang di sana.

Ah, terima kasih jasamu akan selalu kukenang.

Tegal, 18 September 2020

Leave a Comment