| Home / Tokoh / Jenderal Soedirman, Pahlawan Dengan Semangat Tak Terkalahkan!

Jenderal Soedirman, Pahlawan Dengan Semangat Tak Terkalahkan!

Photo of author
Written By Arief Tri

Seorang blogger, penulis buku dan freelance digital marketing. Silahkan hubungi Saya jika ingin bekerja sama dalam hal penulisan.

Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman adalah tokoh yang sangat berjasa pada masa perang gerilya melawan Belanda. Semua orang pasti tahu bahwa Jenderal Soedirman mempunyai andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baiklah sobat, pada tulisan ini saya akan mencoba menjelaskan perjalanan hidup Jenderal Soedirman mulai dari awal sampai dia menjadi seorang pahlawan. Mari kita simak dengan penuh kekaguman dan terinspirasi oleh kisah luar biasa sosok Jenderal Besar Soedirman yang tak terlupakan.

Jenderal Soedirman Masa Kecil dan Pendidikannya

Jenderal Soedirman merupakan seorang pahlawan nasional yang lahir di desa Bodaskarangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Siyem yang merupakan seorang keturunan wedana pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya adalah seorang yang bekerja di Pabrik Gula Kalibagor Banyumas yang bernama Karsid Kartowirodji.

Soedirman kecil awalnya diasuh oleh pamannya yang merupakan seorang camat yang bernama Raden Cokrosunaryo. Pada usia 7 tahun, Soedirman kecil mulai disekolahkan di HIS (Hollandsch Indlandsche School) yang merupakan pendidikan yang didirikan oleh kolonial Belanda. Setelah tamat dari sekolah HIS, selanjutnya Soedirman yang sudah menginjak remaja melanjutkan ke sekolah Taman Siswa, dan yang terakhir pindah sekolah ke Wirotomo. Selain pintar, Soedirman juga merupakan seorang anak yang taat beribadah. Ilmu tentang keislaman dia dapatkan dari seorang guru yang bernama Raden Muhammad Kholil.

Dalam perjalanan hidupnya, Soedirman aktif dalam organisasi keislaman di Muhammadiyah. Setelah lulus dari sekolah Wirotomo, Soedirman melanjutkan lagi sekolahnya di sekolah calon guru Muhammadiyah yang bernama Kweekscool, namun berhenti ditengah jalan karena faktor biaya. Soedirman memutuskan pulang ke Cilacap dan menjadi seorang guru SD di sekolah Muhammadiyah. Soedirman menikah dengan seorang perempuan yang bernama Alfiah yang merupakan anak dari seorang saudagar batik yang kaya bernama Raden Sastroadmodjo. Dari pernikahannya, Soedirman dikaruniai 3 orang anak.

Karier Hebat dalam Dunia Kemiliteran

Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1944, Soedirman dipercayai oleh Jepang menduduki Ketua Dewan Karesidenan, yang selanjutnya dia disuruh bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk oleh Jepang. Setelah tamat pendidikan di PETA, Soedirman langsung diangkat menjadi komandan batalyon yang ditempatkan di Kroya. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, dia diangkat menjadi panglima di Divisi V Banyumas, dan selanjutnya dia terpilih hingga diangkat menjadi Panglima Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

Jenderal Soedirman adalah seseorang yang tidak perlu diragukan akan integritas dan kemampuannya, dia merupakan pejuang yang tangguh, pemberani, rela berkorban, sangat loyal dan menjunjung tinggi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Di usia 31 tahun, Jenderal Soedirman diangkat menjadi jenderal dan panglima termuda yang pertama dalam angkatan perang TNI.

Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

Pada saat Jepang dibom oleh sekutu, maka berakhirlah pendudukan Jepang di Indonesia. Indonesia mengumumkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda punya niat untuk menguasai Indonesia kembali dengan membonceng tentara Inggris yang hendak melucuti tentara Jepang sehingga sampailah pada peristiwa terjadinya Perang Ambarawa.

Perang di Ambarawa terjadi pada tanggal 20 November sampai 15 Desember yang mana Letkol Soedirman yang dipercaya memimpin pasukan menggantikan Letkol Isdiman yang gugur dalam pertempuran, akhirnya bisa mengalahkan dan memukul mundur pasukan Belanda. Belanda melancarkan serangan yang kedua kalinya yaitu di kota Yogyakarta, yang mana Yogyakarta pada waktu itu adalah sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Penyerangan oleh Belanda ini dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda II yang terjadi pada 19 – 20 Desember 1948.

Pada peristiwa ini, Jenderal Soedirman memimpin pasukan untuk melawan Belanda. Dalam keadaan sakit dan ditandu, Jenderal Soedirman dengan tekad dan semangat yang tinggi senantiasa memberikan motivasi dan semangat pada pasukannya. Taktik perang gerilya yang dilakukan oleh Jenderal Soedirman cukup merepotkan dan menyulitkan bagi Belanda untuk menangkapnya. Pada tanggal 1 Maret 1949, terjadilah serangan umum yang dilakukan oleh TNI yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Setelah peristiwa pertempuran 1 Maret di Yogyakarta, Jenderal Soedirman diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Jenderal Soedirman dan Peninggalannya

Jenderal Soedirman wafat pada usia 34 tahun di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Perjuangan dan dedikasi beliau untuk kemerdekaan Indonesia akan selalu dikenang dan dihormati oleh rakyat Indonesia.

Kisah perjuangan pahlawan Jenderal Soedirman yang begitu menginspirasi ini patut kita simak dan teladani. Keberanian, semangat, dan kepemimpinannya yang luar biasa dalam menghadapi penjajah Belanda memberikan motivasi bagi kita semua untuk tetap berjuang demi kemerdekaan, persatuan, dan kemajuan bangsa Indonesia. Semoga peringatan atas jasa-jasa beliau juga dapat mendorong generasi muda untuk menghargai dan menjaga keutuhan negara ini.

Jenderal Soedirman adalah simbol keberanian dan perjuangan seorang pahlawan yang tidak kenal lelah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat beliau harus terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi mendatang. Marilah kita terus mengenang dan mempelajari perjuangan beliau agar kita dapat meneladani semangatnya dalam membangun bangsa yang lebih baik.

Referensi,

https://id.wikipedia.org/wiki/Soedirman

Bagikan:

Tinggalkan komentar