| Home / Cerita Fiksi / Jangan Berprasangka Buruk (Memoar Sulaeman dan Markonah)

Jangan Berprasangka Buruk (Memoar Sulaeman dan Markonah)

Photo of author
Written By Arief Tri

Seorang blogger, penulis buku dan freelance digital marketing. Silahkan hubungi Saya jika ingin bekerja sama dalam hal penulisan.

Hari sudah beranjak siang tetapi cahaya di langit masih terlihat redup belum ada perubahan sedari pagi tadi, baskara masih malu-malu menyapa para ibu yang menanti jemuran mereka kering. Air pun mulai menetes menjadi rintik yang semakin rapat, kembali membasahi setiap jengkal tanah yang ada di bagian bumi ini.

Tidak lama kemudian air dari selokan sudah meluap kejalan. Sulaeman sedang ngopi siang di warung makan mbak Darmi.
“Wah, hujan lagi, pasti sebentar lagi banjir ini.” Suara Mbak Darmi memecah lamunan Sulaeman.
“Kalau sudah banjir begini pasti warung sepi pembeli.” Sahutnya lagi.
Sulaeman cuma nyengir mendengar curhatan Mbak Darmi, belum selesai nyengir sudah ada lagi yang tiba-tiba menyahut,
“Iya Mbak, saya juga jadi tidak bisa berkerja karena dimana-mana ketemunya jalan yang tertutup air, padahal target penjualan harian harus selalu dicapai.” Keluh Mas Parno, seorang karyawan pemasaran sandal jepit.
Sulaeman hanya menanggapi obrolan itu dengan senyum, sambil menyeruput pelan kopinya. Dalam benak Sulaeman berpikir bahwa kita sebagai manusia selalu mengharap lebih, jika panas berharap hujan, jika sudah musim hujan berharap panas segera datang dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya pasti akan ada pihak yang kita salahkan, bahkan terkadang tanpa sadar atau dengan kesadaran penuh Tuhan pun kita salahkan, semoga kita bukan golongan yang menyalahkan Tuhan atas sesuatu yang buruk yang terjadi pada diri kita.
Jika hujan turun deras lalu terjadi banjir, kira-kira apakah itu salah Tuhan? Bukit gundul karena pohonnya ditebangi, sampah memenuhi saluran air, pembangunan tanpa melihat dan memperhitungkan kondisi lingkungan, dan bisa saja banyak hal lain terjadi karena ulah kita sendiri. Masihkah kita menyalahkan Tuhan, sedangkan udara yang kita hirup dan air yang kita minum adalah ciptaan Tuhan.
Bagikan:

Tinggalkan komentar