| Home / Cerita Fiksi / Hotel (Senandika #31)

Hotel (Senandika #31)

Photo of author
Written By Arief Tri

Seorang blogger, penulis buku dan freelance digital marketing. Silahkan hubungi Saya jika ingin bekerja sama dalam hal penulisan.

Senandika adalah sebuah obrolan dengan diri sendiri, berbeda dengan monolog yang diartikan berbicara satu arah kepada orang lain. Beda lagi dengan memoar. Memoar adalah karangan yang mencertitakan secara khusus pengalaman hidup seseorang, bisa pengalaman pribadi atau hasil pengamatan dari orang lain.

senandika hotel

Aku duduk terdiam di depanmu. Hatiku remuk bagai serpihan kaca, berkeping-keping.
Dan naifnya kau satu-satunya yang ingin kupeluk, meski itu tidaklah mungkin.
Aku meringkuk memeluk kakiku yang terlipat, memeluknya erat.
Isak tangisku pecah di depanmu, Kau hanya diam.

Aku perlahan menyandarkan tubuh padamu. Kau masih diam tak bergeming. Tangisku semakin menjadi. Aku memukulmu sekuat tenagaku, sekeras yang aku mampu.

“Aku membencimu! Aku membencimu!” Gumamku sambil terisak.

Bekas pukulanku di tubuhmu juga terlihat jelas, tetapi jika Kau tahu hatiku lebih hancur dari bekas pukulan itu. Lalu, Kau membuka dirimu, menawarkan sederet minuman beralkohol berbotol kecil, Aku memandangmu lamat-lamat.

Aku ragu menerima, Kau tidak memaksaku. Tetapi kuraih kasar botol-botol itu dari genggammu. Kubuka satu demi satu, kucampur dalam gelas bening dari wastafel hotel tempat kita bertemu.

“Hotel ini belum lunas.” Ujarku. Kau masih diam tidak berbicara. Aku melihat campuran 3 botol kecil minuman beralkohol. Aku aduk perlahan dengan jari telunjukku. Kujilat pahitnya, lalu kubiarkan jariku menyentuhmu.
“Rasakan pahitnya, rasakan pahit hatiku.” Gumamku.

Tak satupun kata terucap darimu. Kau dingin, tidak seperti biasanya, kau menyejukkan. Kali ini kau beku. Aku berulang-ulang memohon perhatianmu. Tapi kau hanya diam. Kutegak habis semua yang tercampur dalam gelas bening.

“Kepalaku pusing…” Kau diam.
“Kepalaku pusing!” Kau tidak peduli.
“KEPALAKU PUSING!!!” Kulempar gelas ke tubuhmu. Pecah berserakan di lantai. Kupandangi kau yang tetap diam dan dingin.

Kupungut satu pecahan gelas yang paling besar. Kudekatkan pada nadi.
Sekali lagi kupandangi kau dengan air mata. Kau tak bergeming.

Aku lemparkan pecahan kaca itu padamu.

“Brengsek!” Teriakku.

Percuma Aku putus nadi ini kalau Kau juga tidak peduli.

Mungkin jalanan di bawah sana akan lebih perhatian denganku.

“Bruukk!”

Sama saja, jalanan pun kurasakan dingin di tubuhku, siapa lagi yang akan peduli?

***

Bagikan:

Tinggalkan komentar