Cerita Hujan (Memoar Sulaeman dan Markonah)

Memoar atau memoir adalah kisah hidup yang berfokus pada pengalaman, perasaan dan penilaian penulis tentang orang-orang dan kejadian yang ia temui. Dalam memoar ini penulis menggunakan nama Sulaeman dan Markonah sebagai simbol tokoh utama.

—-

Awan beriringan dengan berbagai formasinya, memandang awan itu membawa suasana damai dalam hati. Mentari belumlah naik di atas ubun-ubun, dia sepertinya juga malu-malu menampakkan keperkasaannya, mungkin merasa sungkan dengan para ibu yang sedang menjemur pakaian di halaman.

Awan dengan sigap segera berubah pekat, hitam menggantung seakan ada yang tertumpah dari atas sana. Para ibu menggerutu belum setengah jalan jemuran mereka kering sudah akan turun berkah dari Sang Pencipta, anak-anak yang bersorak bahagia karena peristiwa itu.
Sulaeman menggeber motornya, dalam hatinya bergejolak antara bahagia atau bimbang hujan akan segera turun, bulir air mulai rintik mengguyur permukaan bumi. Begitulah perasaan kita sebagai manusia, saat panas mengharap hujan jika hujan mengharap panas, berkah dari Sang Pencipta itu harus selalu disyukuri, jangan bimbang dan jangan ragu harus selalu bahagia seperti anak-anak yang saat ini sedang berlarian di bawah guyuran hujan.
Akhirnya Sulaeman sampai di rumah dengan pakaian dan tubuh basah kuyup, tetapi ada kebahagiaan baginya saat istrinya menyambut dengan senyum yang paling hangat.
“Kehujanan Mas, segera keringkan tubuhmu sana agar tidak masuk angin.” Sambut Markonah sambil menyerahkan handuk kepada Sulaeman.
“Terima kasih sayang.” Jawab Sulaeman dengan senyumannya.
Secangkir kopi hangat juga sudah tersedia di meja makan, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan.
Episode memoar / memoir yang lain,
Referensi,

Leave a Comment