| Home / Cerita Fiksi / Cerita Fiksi, Sepatu Baru Reina (Bagian 1)

Cerita Fiksi, Sepatu Baru Reina (Bagian 1)

Photo of author
Written By Arief Tri

Seorang blogger, penulis buku dan freelance digital marketing. Silahkan hubungi Saya jika ingin bekerja sama dalam hal penulisan.

Sepatu Baru Reina adalah sebuah cerita fiksi yang pernah Saya tulis beberapa tahun yang lalu. Kisah ini menceritakan tentang Reina yang ingin sekali mempunyai sepatu baru. Bagaimana kisahnya? Yuk langsung saja simak cerita bersambung dari Sepatu Baru Reina.

cerita fiksi sepatu baru reina

Bagian 1 – Dia Yang Bernama Reina

Suara adzan subuh terdengar begitu merdu. Pak Sulaeman dan istrinya bersiap-siap untuk pergi ke mushola yang berjarak dekat dari tempat tinggal mereka. Air wudhu terasa dingin pagi ini, mungkin karena hujan semalam yang membuat bumi basah, meninggalkan kesegarannya sebelum matahari menghangatkan bumi besok.

Bu Asih, istri Pak Sulaeman, sudah siap dengan pakaian longgarnya, menunggu sang suami selesai berwudhu agar mereka bisa pergi ke mushola bersama-sama. Dengan hati-hati, Pak Sulaeman membantu istrinya berjalan. Kaki Bu Asih membengkak sejak bulan keempat kehamilan dan sekarang ia sudah memasuki bulan kesembilan, waktu yang mereka nantikan segera tiba.

Kehamilan pertamanya terasa berat bagi Bu Asih, tetapi sebagai ibu yang baik, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi buah hatinya yang segera mengalami keindahan dunia dan menjadi kebahagiaan bagi kehidupan Bu Asih dan Pak Sulaeman.

Setelah sholat subuh, Bu Asih menyiapkan makanan untuk suaminya. Nasi, sayur, dan tempe sudah siap dalam tempat bekal Pak Sulaeman.
“Pak…” desah Bu Asih sambil memegangi perutnya. Pak Sulaeman, yang sedang menyiapkan peralatan kerjanya, segera mendekati istrinya yang ada di dapur. Wajahnya terlihat tegang melihat Bu Asih merintih sambil memegangi perutnya.
“Iya, sayang? Apa yang kamu rasakan?” tanya Pak Sulaeman pada istrinya, wajahnya tegang saat melihat istrinya dalam kesakitan.
“Oh… sakit, Pak…”
“Perutku sakit, Pak…”
“Tolong antar aku ke bidan, Pak…”
Pak Sulaeman menganggukkan kepala dan membantu istrinya untuk duduk di kursi di ruang tamu. Dengan sigap, ia mengambil tas berisi pakaian Bu Asih dan pakaian untuk bayi yang akan segera lahir. Untungnya, firasat Bu Asih tiga hari yang lalu untuk menyiapkan segala sesuatunya segera dilakukan, jika tidak, hari ini akan semakin kacau dan membuatnya semakin panik.

Setelah semua siap, Pak Sulaeman segera membawa istrinya ke klinik bersalin yang berjarak dekat dari rumah mereka. Sepeda motor Pak Sulaeman melaju perlahan, ia khawatir getarannya akan berdampak buruk pada kandungan Bu Asih. Dalam waktu kurang dari 20 menit, mereka tiba di klinik bersalin, di mana bidan dan perawat dengan sigap menangani proses persalinan.

Hati Pak Sulaeman berdebar menunggu proses persalinan istrinya. Perasaannya campur aduk antara kebahagiaan dan sedih. Ia berulang kali berbisik doa, memohon keselamatan dan kesehatan yang baik bagi istrinya dan bayi yang akan lahir, tanpa ada kekurangan sedikitpun. Hatinya teriris mendengar tangisan dan rintihan istrinya yang berjuang sekuat tenaga agar anak yang dinantikan itu bisa lahir ke dunia dengan selamat.

Perjuangan seorang wanita saat melahirkan memang luar biasa. Sebagai seorang pria, keberanian dalam dirinya menjadi ciut saat melihat proses persalinan sang istri. Setiap tahapan yang dijalani istrinya membuat hatinya penuh empati. Sesekali, ia memberikan kata-kata semangat, mendorong istrinya untuk tetap bertahan.

Bagi Bu Asih, pengalaman ini sangat intens. Ia merasakan sakit yang tak terbayangkan, napasnya semakin sesak, keringat terus mengucur, menahan rasa sakit dari ujung rambut hingga ujung kaki, tetapi ia harus bertahan demi kelahiran anak yang begitu dinantikannya. Saat penglihatannya mulai kabur dan kesadarannya memudar, suara suaminya yang terus memberikan semangat mampu membuatnya bangkit kembali.

Waktu terus berlalu, detik, menit, dan jam saling berlomba. Proses perjuangan telah berlangsung selama satu jam, dan maut terus mengintai, tanpa peduli apakah ibu atau bayinya yang akan kembali ke hadirat Allah.
“Alhamdulillah…” seru bidan dan perawat itu.
“Selamat, Pak, anak perempuannya.”
Tubuh Pak Sulaeman melemas, harapannya yang telah lama dinantikan runtuh dalam sekejap. Ia melihat istrinya yang masih pucat. Ada kebahagiaan yang tak terkira karena istrinya masih selamat setelah melalui proses persalinan yang begitu melelahkan ini.

Ia melihat wajah putrinya yang begitu mirip dengan ibunya. Ia berbisik adzan dan iqamah bergantian di telinga putrinya, berharap suatu hari nanti ia akan menjadi anak yang salehah yang selalu mendoakan ayah dan ibunya. Air matanya mengalir deras, memecah keheningan di ruang bersalin yang sebelumnya sunyi.

Pak Sulaeman dan Bu Asih saling tersenyum, penuh kebahagiaan. Inilah hadiah paling indah dan luar biasa bagi keduanya. Semoga mereka menjaga amanah ini dengan baik. Reina Azazahra, nama yang Pak Sulaeman berikan untuk putri pertamanya, ia berharap putrinya kelak akan menjadi anak yang berbakti dan selalu mendoakan ayah dan ibunya.


“Bunda, Reina berangkat sekolah dulu ya,” pamit Reina, tangannya meraih dan mencium tangan ibunya itu.
“Iya, Nak. Hati-hati ya berangkatnya,” jawab Bu Asih, tangannya mengusap kepala Reina.
“Assalamualaikum, Bun.”
“Wa’alaikumsalam, Nak.”

Reina segera mengambil sepeda mini-nya dan mengayuh sepedanya dengan kencang. Meskipun masih kelas 1 SD, tetapi dia berani berangkat dan pulang sekolah sendiri. Sejak awal masuk hingga hari ini, sudah genap seminggu dia dengan semangat mengayuh sepeda warna birunya tanpa rasa takut sedikitpun. Bapak dan ibunya tidak mengantarkan Reina berangkat sekolah karena mereka harus bekerja.

Pak Sulaeman sedang mengerjakan proyek di luar kota dan Bu Asih bekerja serabutan sebagai buruh cuci di beberapa tempat. Sebagai orang tua, juga ada rasa khawatir kalau saja terjadi hal yang tidak diinginkan saat Reina berangkat sekolah, tetapi mereka tidak begitu merisaukan hal tersebut. Mereka percaya bahwa putrinya bisa menjaga diri, dan Allah pasti melindungi setiap langkah putrinya dari berangkat hingga pulang sekolah nanti.

Reina hidup di keluarga yang memiliki perekonomian pas-pasan. Bapak dan ibunya harus bekerja untuk bisa mencukupi semua kebutuhan bulanan mereka. Tetapi dengan kondisi seperti itu, Reina tidak minder dengan teman-temannya. Reina malah lebih mandiri jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Selain itu, sejak kecil Reina sangat aktif, rasa ingin tahunya sangat tinggi, sampai Bu Asih terkadang kewalahan menjawab berbagai pertanyaan dari anaknya itu.

Terkadang, untuk menyiasati rasa ingin tahu Reina, Bu Asih juga sering membawakan buku-buku bacaan yang dia dapatkan dari majikan tempatnya bekerja. Berbagai buku yang dia bawa selalu dibaca habis oleh Reina, dan dia sangat antusias sekali belajar membaca.

Perjalanan ke sekolah tidaklah jauh bagi Reina, hanya sekitar 30 menit bersepeda. Semilir angin pagi ini menerpa wajah Reina, rambutnya yang terurai panjang sebahu melambai, anak rambutnya bermain dengan lincah menyapu wajah kecil nan ayu yang masih tanpa riasan, kulitnya yang kuning langsat, murah senyum, dan ceria membuat semua orang tahu kalau dia yang bernama Reina.

Bersambung…

Bagikan:

Tinggalkan komentar