Bung Hatta, Pahlawan Anti Korupsi: Mengubah Budaya Negara demi Kesejahteraan Rakyat!

Bung Hatta

Bung Hatta, proklamator tercinta dan kusuma bangsa, telah diabadikan oleh musisi legendaris, Iwan Fals, melalui lagu berjudul ‘Bung Hatta’. Dalam lirik lagu tersebut, ada kalimat yang menggambarkan kesedihan rakyat Indonesia saat harus melepas kepergian sang pahlawan, “Hujan air mata dari pelosok negeri, saat melepas engkau pergi, berjuta kepala tertunduk haru…”. Bung Hatta adalah sosok yang patut diteladani, karena dia rela mengorbankan kenyamanannya demi kepentingan orang lain.

Bung Hatta Pahlawan dari Keluarga Berkecukupan

Mohammad Hatta, atau yang akrab disapa Bung Hatta, adalah tokoh pahlawan yang telah berjuang sepanjang hidupnya. Dia memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, mendampingi Bung Karno. Bersama dengan para pahlawan lainnya, Mohammad Hatta berjuang agar Indonesia segera merdeka. Bung Hatta hadir di samping Bung Karno saat pembacaan proklamasi kemerdekaan dan kemudian menjadi wakil presiden setelah itu. Selain perjuangannya yang luar biasa, Mohammad Hatta juga menjadi teladan dalam mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi.

Bung Hatta Teladan Kesederhanaan dan Integritas

Beliau membuktikan integritasnya bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan perbuatan. Kisahnya pernah terungkap melalui sekretaris pribadinya, Iding Wangsa Widjaja, yang menegur Mohammad Hatta karena menggunakan tiga lembar kertas dari kantor Sekretariat Wakil Presiden untuk keperluan pribadi. Beliau tidak hanya tegas kepada rekan kerjanya, tapi juga kepada anak-anaknya. Ketika putrinya, Gemala Rabiah Hatta, terbukti menggunakan amplop dengan Logo Konsulat Jendral RI untuk mengirim surat non-negara, dia langsung memberikan teguran.

Mohammad Hatta menjalani hidupnya tanpa kemewahan. Hal ini tercatat dalam buku berjudul “Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa”. Setelah Beliau meninggal pada tanggal 14 Maret 1980, keluarganya menemukan iklan sepatu Bally yang telah digunting dan disimpan di dalam dompet wakil presiden pertama RI tersebut.

Potongan iklan tersebut ternyata telah disimpan selama bertahun-tahun oleh Mohammad Hatta. Pada tahun 1950-an, sepatu bermerek Bally sangat populer di Indonesia, dan Beliau pun ingin memiliki sepasangnya. Ketika melihat iklan sepatu Bally di koran, dia menggunting iklan tersebut dan menyimpannya.

Sebagai wakil presiden, seharusnya tidak sulit bagi Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally. Namun, dia tidak mau mengorbankan integritasnya atau menjual jabatannya demi kepentingan pribadi. Bung Hatta adalah sosok yang tidak mudah goyah dalam keyakinannya. Untuk mewujudkan keinginannya, dia mencoba menabung uang yang didapat dari hasil menulis dan mengisi seminar. Meskipun harga sepatu Bally sudah mahal sejak dulu, uang tabungannya tidak pernah cukup untuk membelinya.

Selain mengutamakan kepentingan orang lain, Beliau juga membantu teman-temannya yang membutuhkan bantuan keuangan. Setelah tidak lagi menjadi wakil presiden, dia kembali ke rumah pribadinya dan melarang keluarganya membawa barang selain yang dimilikinya, bukan barang inventaris negara. Bung Hatta mencoba memenuhi kebutuhan keluarganya dengan menjadi penulis. Bahkan, dia pernah menjalani kehidupan dalam keterbatasan hingga perhiasan Ibu Rahmi harus digadaikan.

Nilai-nilai anti korupsi yang diajarkan oleh Beliau menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan yang bebas dari korupsi. Pada masa itu, korupsi menjadi penyakit yang merajalela di Indonesia, mulai dari tingkat menteri hingga desa terlibat dalam praktik korupsi.

Beliau tidak ingin mengotori jiwanya dengan rezeki yang bukan haknya. Dia selalu diingatkan oleh pepatah Jerman, “Der Mensch ist, war est izt,” yang berarti sikap manusia sejalan dengan cara dia mencari nafkah.

Menjaga Integritas: Mengubah Budaya Korupsi di Indonesia

Meskipun Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di Indonesia masih cenderung stagnan, yaitu berada pada poin 38 menurut survei Transparency International tahun 2021, kita harus tetap berusaha menjaga diri dari godaan mengambil yang bukan hak kita. Praktik korupsi tidak boleh dijadikan budaya di Indonesia. Pesan yang disampaikan oleh Moh. Hatta pada tahun 1961 tetap relevan hingga saat ini.

Marilah kita mengenang jasa-jasa Bung Hatta, pahlawan anti korupsi yang menginspirasi. Melalui teladan kesederhanaan, integritas, dan pengorbanan yang dilakukan oleh Bung Hatta, kita dapat membangun bangsa yang bebas dari korupsi dan menjaga kemurnian jiwa kita.

1 thought on “Bung Hatta, Pahlawan Anti Korupsi: Mengubah Budaya Negara demi Kesejahteraan Rakyat!”

Leave a Comment