10 Kesalahan Ejaan yang Sering Terjadi dalam Menulis, Segera Hindari!

Menulis adalah salah satu keterampilan yang penting untuk dikuasai oleh siapa saja. Menulis dapat membantu kita menyampaikan ide, informasi, atau opini kepada pembaca. Namun, menulis juga membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian, terutama dalam hal ejaan. Kesalahan ejaan dapat mengurangi kredibilitas, kualitas, dan kejelasan tulisan kita. Oleh karena itu, kita perlu menghindari kesalahan ejaan sebisa mungkin.

Dalam artikel ini, kita akan membahas 10 kesalahan ejaan yang sering terjadi dalam menulis dan cara menghindarinya. Kesalahan ejaan ini meliputi:

  1. Kesalahan penggunaan huruf kapital
  2. Kesalahan penggunaan tanda baca
  3. Kesalahan penulisan kata serapan
  4. Kesalahan penulisan kata ulang
  5. Kesalahan penulisan kata ganti
  6. Kesalahan penulisan kata depan
  7. Kesalahan penulisan kata sambung
  8. Kesalahan penulisan kata baku dan tidak baku
  9. Kesalahan penulisan kata berimbuhan
  10. Kesalahan penulisan kata berakhiran -an

Mari kita bahas satu per satu kesalahan ejaan tersebut dan cara menghindarinya.

Kesalahan Ejaan yang Sering Terjadi

Kesalahan Penggunaan Huruf Kapital

Huruf kapital adalah huruf besar yang digunakan untuk menulis awal kalimat, nama orang, nama tempat, nama organisasi, nama hari, nama bulan, dan sebagainya. Huruf kapital digunakan untuk menunjukkan penghormatan, penekanan, atau perbedaan makna. Kesalahan penggunaan huruf kapital dapat menyebabkan kesan kurang sopan, kurang profesional, atau kurang tepat.

Contoh kesalahan penggunaan huruf kapital:

  • Saya suka makan nasi goreng di warung Pak Budi. (Seharusnya: Saya suka makan nasi goreng di warung pak Budi.)
  • Dia bekerja di Bank Indonesia. (Seharusnya: Dia bekerja di bank Indonesia.)
  • Selamat datang di Kota Surabaya. (Seharusnya: Selamat datang di kota Surabaya.)

Cara menghindari kesalahan penggunaan huruf kapital:

  • Gunakan huruf kapital untuk menulis awal kalimat, kecuali jika kalimat tersebut merupakan lanjutan dari kalimat sebelumnya yang dipisahkan oleh tanda titik dua (:).
  • Gunakan huruf kapital untuk menulis nama orang, nama tempat, nama organisasi, nama hari, nama bulan, dan kata-kata lain yang bersifat khusus atau spesifik.
  • Gunakan huruf kapital untuk menulis kata-kata yang bersifat singkatan atau akronim, seperti KPK, ASEAN, dll.
  • Gunakan huruf kapital untuk menulis kata-kata yang memiliki makna berbeda jika ditulis dengan huruf kecil, seperti Allah, Tuhan, dll.
  • Jangan menggunakan huruf kapital untuk menulis kata-kata yang bersifat umum atau generik, seperti warung, bank, kota, dll.

Kesalahan Ejaan yang Sering Terjadi Pada Penggunaan Tanda Baca

Tanda baca adalah simbol-simbol yang digunakan untuk memisahkan, menghubungkan, atau mengakhiri kalimat atau bagian-bagian kalimat. Tanda baca digunakan untuk menunjukkan intonasi, nada, atau emosi dalam tulisan. Kesalahan penggunaan tanda baca dapat menyebabkan kesulitan dalam memahami maksud, isi, atau struktur tulisan.

Contoh kesalahan penggunaan tanda baca:

  • Saya suka, makan, minum, dan tidur. (Seharusnya: Saya suka makan, minum, dan tidur.)
  • Apa kabar? (Seharusnya: Apa kabar?)
  • Dia berkata “Saya tidak mau.” (Seharusnya: Dia berkata, “Saya tidak mau.”)

Cara menghindari kesalahan penggunaan tanda baca:

  • Gunakan tanda koma (,) untuk memisahkan unsur-unsur dalam kalimat yang sejenis, seperti kata benda, kata kerja, kata sifat, dll.
  • Gunakan tanda titik (.) untuk mengakhiri kalimat yang bersifat pernyataan, perintah, atau permintaan.
  • Gunakan tanda tanya (?) untuk mengakhiri kalimat yang bersifat pertanyaan.
  • Gunakan tanda seru (!) untuk mengakhiri kalimat yang bersifat seruan, ungkapan, atau penegasan.
  • Gunakan tanda kutip (“) untuk menandai ucapan, kutipan, atau judul yang ditulis dalam kalimat.
  • Gunakan tanda titik dua (:) untuk memisahkan kalimat yang menjelaskan, menguraikan, atau memberi contoh dari kalimat sebelumnya.
  • Gunakan tanda titik koma (;) untuk memisahkan kalimat yang berhubungan erat, tetapi tidak dihubungkan oleh kata penghubung.
  • Gunakan tanda hubung (-) untuk menulis kata-kata yang terdiri dari dua atau lebih kata yang digabungkan, seperti tangan-tangan, mata-mata, dll.
  • Gunakan tanda pisah (/) untuk menulis kata-kata yang memiliki makna alternatif atau pilihan, seperti dan/atau, ya/tidak, dll.

Kesalahan Ejaan yang Sering Terjadi Pada Penulisan Kata Serapan

Kata serapan adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang disesuaikan dengan ejaan, pelafalan, atau makna dalam bahasa Indonesia. Kata serapan digunakan untuk menambah kosa kata, menunjukkan perkembangan, atau menyatakan hal-hal yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kesalahan penulisan kata serapan dapat menyebabkan kebingungan, kesalahan pemahaman, atau kesalahan pengucapan.

Contoh kesalahan ejaan yang sering terjadi pada penulisan kata serapan:

  • Saya suka makan sereal di pagi hari. (Seharusnya: Saya suka makan sereal di pagi hari.)
  • Dia membeli mobil baru dari dealer. (Seharusnya: Dia membeli mobil baru dari diler.)
  • Mereka sedang berdiskusi tentang politik. (Seharusnya: Mereka sedang berdiskusi tentang politik.)

Cara menghindari kesalahan penulisan kata serapan:

  • Gunakan kamus atau sumber-sumber yang terpercaya untuk mengetahui ejaan yang benar dari kata serapan.
  • Sesuaikan ejaan kata serapan dengan aturan ejaan bahasa Indonesia, seperti penggunaan huruf vokal, huruf konsonan, huruf ganda, dll.
  • Jangan menambahkan huruf-huruf yang tidak diperlukan atau menghilangkan huruf-huruf yang diperlukan dalam menulis kata serapan.
  • Jangan mengubah makna atau pelafalan kata serapan yang sudah baku atau umum digunakan dalam bahasa Indonesia.

Kesalahan Ejaan yang Sering Terjadi Pada Penulisan Kata Ulang

Kata ulang adalah kata-kata yang terdiri dari dua atau lebih kata yang sama atau berbeda yang digunakan untuk menunjukkan pengulangan, penguatan, atau variasi. Kata ulang digunakan untuk menambah makna, nuansa, atau gaya dalam tulisan. Kesalahan penulisan kata ulang dapat menyebabkan kejanggalan, keambiguan, atau kekurangan makna.

Contoh kesalahan ejaan yang sering terjadi pada penulisan kata ulang:

  • Saya suka makan nasi-nasi. (Seharusnya: Saya suka makan nasi.)
  • Dia selalu berlari-lari ke sana kemari. (Seharusnya: Dia selalu berlari ke sana kemari.)
  • Mereka bermain-main di taman. (Seharusnya: Mereka bermain di taman.)

cara menghindari kesalahan penulisan kata ulang:

  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat tidak terhitung, seperti air, pasir, api, dll.
  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat kualitatif, seperti cantik, pintar, besar, dll.
  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat kuantitatif, seperti banyak, sedikit, jarang, dll.
  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat perbuatan, seperti lari, makan, tidur, dll.
  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat sifat, seperti manis, asin, pedas, dll.
  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat hubungan, seperti teman, saudara, tetangga, dll.
  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat penegasan, seperti benar-benar, sungguh-sungguh, pasti-pasti, dll.
  • Gunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat variasi, seperti berbagai-bagai, macam-macam, aneka-aneka, dll.
  • Jangan menggunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat terhitung, seperti buku, meja, kursi, dll.
  • Jangan menggunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat spesifik, seperti nama, tanggal, angka, dll.
  • Jangan menggunakan kata ulang untuk menulis kata-kata yang bersifat berlawanan, seperti panas-dingin, besar-kecil, hitam-putih, dll.

Kesalahan Penulisan Kata Ganti

Kata ganti adalah kata-kata yang digunakan untuk menggantikan kata benda, kata sifat, atau frasa yang telah disebutkan sebelumnya. Kata ganti digunakan untuk menghindari pengulangan, menunjukkan sudut pandang, atau menyesuaikan dengan konteks. Kesalahan penulisan kata ganti dapat menyebabkan ketidakjelasan, ketidakkonsistenan, atau ketidaksesuaian.

Contoh kesalahan penulisan kata ganti:

  • Saya dan dia pergi ke pasar. Dia membeli buah-buahan. Saya membeli sayur-sayuran. Kemudian kami pulang. (Seharusnya: Saya dan dia pergi ke pasar. Kami membeli buah-buahan dan sayur-sayuran. Kemudian kami pulang.)
  • Buku itu milik Rina. Buku itu sangat tebal. Buku itu berisi tentang sejarah Indonesia. (Seharusnya: Buku itu milik Rina. Buku tersebut sangat tebal. Buku tersebut berisi tentang sejarah Indonesia.)
  • Ani adalah teman saya. Dia sangat pintar. Ani selalu mendapat nilai bagus. (Seharusnya: Ani adalah teman saya. Dia sangat pintar. Dia selalu mendapat nilai bagus.)

Cara menghindari kesalahan ejaan yang sering terjadi pada penulisan kata ganti:

  • Gunakan kata ganti yang sesuai dengan jenis, jumlah, atau fungsi dari kata yang digantikannya, seperti saya/kamu/dia, ini/itu, aku/kau/ia, dll.
  • Gunakan kata ganti yang sesuai dengan sudut pandang atau posisi dari penulis atau pembicara, seperti saya/kamu, kami/kalian, kita, dll.
  • Gunakan kata ganti yang sesuai dengan konteks atau situasi dari tulisan atau percakapan, seperti anda/bapak/ibu, saudara/saudari, anda sekalian, dll.
  • Gunakan kata ganti yang bervariasi untuk menghindari pengulangan yang monoton, seperti ini/itu, tersebut, yang, dll.
  • Jangan menggunakan kata ganti yang ambigu atau tidak jelas acuannya, seperti dia, mereka, itu, dll.

Demikianlah 5 kesalahan ejaan yang sering terjadi dalam menulis dan cara menghindarinya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang ingin meningkatkan keterampilan menulis Anda. Lanjut bagian 2 ya. Jika Anda memiliki pertanyaan, saran, atau kritik, silakan tulis di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih telah membaca. Selamat menulis!

Leave a Comment